Senin, 18 April 2011

Tempat Pertemuan Pengikut Aliran Sesat Digerebek

Dua Putra Pimpinan Millata Abraham Diamankan

Aparat Polresta Banda Aceh mengamankan Jimmy dan Fajri, kedunya diduga sebagai pengikut aliran Millata Abraham saat dilakukan penggerebekan oleh tim terpadu dari Kota Banda Aceh di kawasan Jalan Teratai, Gampong Baro, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu (17/4) pagi.  Dalam penggerebekan itu tiga warga yang diduga terlibat aliran Millata Abraham hingga saat ini masih diamankan di Mapolresta Banda Aceh.

 
BANDA ACEH - Tim Terpadu Kota Banda Aceh menggerebek sebuah ruko berlantai tiga di Jalan Teratai, Kelurahan Gampong Baro, Kota Banda Aceh, Minggu (17/4) pagi. Melalui operasi yang nyaris memicu amuk massa itu, tim yang dipimpin Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal mengamankan dua pemuda kakak beradik yang tak lain adalah putra dari Pimpinan Millata Abraham Aceh, Zainuddin yang kini masih ditahan di Mapolresta Banda Aceh.

Pada Minggu dini hari kemarin, tim penertiban peraturan kota yang terdiri atas personel Wilayatul Hisbah (WH) dan Satpol PP dibantu aparat TNI/Polri bergerak ke beberapa kawasan kota untuk menertibkan warung burger, wanita tunasusila, minuman keras, gelandangan, dan sejumlah lokasi lainnya, termasuk kawasan di sekitar Pelabuhan Ulee Lheue yang selama ini sering menjadi tempat mangkal anak-anak di bawah umur dan pasangan muda-mudi.

“Saat kami sedang melakukan penertiban warung burger, wanita tunasusila, minuman keras, dan gelandangan, ada informasi dari masyarakat yang mengatakan ada pertemuan kelompok Millata Abraham di salah satu rumah toko di Jalan Teratai, lalu kami datangi,” kata Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal.

Sesampai di depan ruko itu, puluhan warga terlihat sedang berkumpul sambil menonton siaran langsung sepakbola di depan sebuah kedai kopi yang tak jauh dari lokasi sasaran. Beberapa petugas langsung menggedor pintu ruko namun tak ada tanggapan meski diyakini di dalam ruko itu ada orang. Buktinya, nyala lampu di dalam ruko sempat dimatikan namun beberapa saat kemudian hidup lagi. Waktu itu jarum jam sekitar pukul 05.00 subuh.

Ketika petugas terus menggedor, tiba-tiba turun dua orang laki-laki dewasa dari lantai atas dan memberi isyarat melalui jendela depan ruko bahwa mereka tak bisa membuka pintu karena kunci dibawa oleh dua orang rekan mereka yang menonton pertandingan sepakbola di kedai kopi yang tak jauh dari ruko tersebut.

Mendengar jawaban itu, beberapa orang personel Satpol PP dan WH langsung menuju ke kedai kopi yang sedang dipadati warga pecinta Liga Spanyol. Dengan menggunakan megaphone (pengeras suara), petugas tersebut meminta agar pemilik ruko yang membawa kunci segera kembali. Tak lama kemudian keluar sesosok pemuda dari dalam kedai itu langsung menjumpai petugas menanyakan ada perlu apa.

Setelah mendapat penjelasan singkat dari petugas, pemuda yang bernama Jimmy (26) kembali ke rukonya dan membuka pintu. Namun sebelum dia masuk ke dalam ruko, Jimmy mengisyaratkan melalui petugas agar memanggil adiknya yang juga sedang nonton bola agar kembali. Adiknya bernama Fajri (24).

Interogasi
Untuk memastikan kebenaran laporan masyarakat yang menyebutkan bahwa ruko tersebut sering digunakan sebagai tempat berkumpulnya pengikut aliran Millata Abraham, Illiza mengarahkan timnya untuk masuk secara terbatas ke dalam ruko guna berdialog dengan Jimmy dan Fajri.

Illiza yang saat itu didampingi dua anggota DPRK, Kadis Perhubungan, Komunikasi, dan Informasi serta Kadis Syariat Islam, personel Satpol PP dan WH, para camat, wartawan, dan sejumlah unsur lainnya memintai keterangan dari Jimmy dan Fajri apakah benar mereka sebagai pengikut aliran Millata Abraham. Juga ditanyakan apakah ruko tersebut sering dijadikan sebagai tempat pertemuan sekaligus membaiat pengikut. Ketika tim sedang berdialog dengan Jimmy dan Fajri, massa yang menunggu di luar terlihat sangat emosi bahkan ada yang menggedor-gedor pintu sambil meneriakkan agar dibakar saja.

Kepada tim, Jimmy dan Fajri membenarkan kalau mereka adalah putra dari Zainuddin, pimpinan Millata Abraham Aceh yang kini masih diamankan di Mapolresta Banda Aceh setelah diamankan di kawasan Prada, 1 April 2011. Saat ditanyakan apakah mereka juga sebagai pengikut aliran Millata Abraham, Jimmy menjawab bahwa mereka meyakini apa yang diyakini ayah mereka.

Setelah ada pengakuan seperti itu, massa di luar semakin beringas. Akhirnya petugas melaporkan suasana yang genting itu ke Polresta Banda Aceh. Tak lama berselang sejumlah personel polisi tiba di lokasi dan mengamankan Jimmy dan Fajri.

Sebelum meninggalkan ruko, petugas naik ke lantai atas untuk memeriksa berbagai barang bukti serta mencari dua orang lainnya yang sebelumnya berada di dalam ruko. Ternyata orang yang dicari sudah tak ada lagi. Sebuah info menyebutkan, mereka diam-diam menyelinap pergi menggunakan mobil yang sebelumnya parkir di depan ruko.

Ketika aparat membawa Jimmy dan Fajri ke Polresta, bersama mereka juga ada seorang lainnya yang disebut-sebut sebagai pekerja di ruko yang menjual pakaian grosir itu. Saat dikeluarkan dari ruko untuk dimasukkan ke dalam mobil, massa sempat mengamuk dan melampiaskan kemarahan kepada ketiga orang tersebut. Akan tetapi karena kesigapan petugas dan Wakil Wali Kota Banda Aceh, insiden yang tak diinginkan berhasil dicegah.

Pengakuan Zainuddin
Pantauan Serambi di Mapolresta Banda Aceh, Minggu (17/4) sore, terlihat Jimmy, Fajri, dan seorang pekerja di ruko yang disebut-sebut bernama Isa diamankan dalam satu ruang bersama Zainuddin, Iqbal, dan Buyung alias Wisbar yang sudah lebih duluan berada di ruangan itu.

Zainuddin kepada Serambi mengatakan, tentang diamankannya seorang pekerjanya yang bernama Isa, pemuda itu menurut Zainuddin tidak tahu apa-apa. “Saya berharap Isa bisa dibebaskan, namun untuk kedua anak saya (Jimmy dan Fajri) biar saya yang bertanggungjawab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar